Jumat, 10 Oktober 2014

Kematian

Kematian merupakan suatu yang pasti, tiada diketahui kapan datangnya namun tiada dipungkiri kepastiannya. Kelak setiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya mati.

Kita tidak pernah mengetahui kapan datangnya kematian, dimana kita akan mati, dan dalam keadaan apakah kita akan mati. Pernahkah kita bertanya bagaimana keadaan kita saat maut menjemput kita? Apakah dalam keadaan bersujud dengan khusyuk dalam sholat kita? Ataukah maut menjemput kita dalam keadaan membaca Al-Qur'an? Atau jangan jangan ajal tiba ketika kita lalai dariNya? Meninggal ditemani botol botol terlarang dan obat obatan yang melalaikan? Ataukah kita meninggal dalam keadaan berzina? Apakah itu yang terjadi?  Naudzubillah.

Jika kalian bisa memilih keadaan saat kalian mati, keadaan apakah yang akan kamu pilih? Jika aku diperbolehkan memilih aku ingin meninggal seperti meninggalnya Utsman Bin Affan r.a. Meninggal dalam keadaan haus dan lapar karena puasa, dan dalam keadaan membaca Al-Qur'an. Namun, akankah hal itu bisa terjadi bila selama ini kita tiada pernah berpuasa. Akankah hal itu terjadi jika kita sangat jauh dari Al-Qur'an. Seperti mengharapkan sampai di Tangerang padahal kita menempuh jalan menuju Surabaya. Jauh, sangat jauh dari kenyataan. Sudah banyak contoh disekitar kita, orang orang yang meninggal sesuai dengan kebiasaannya. Ustadz yang meninggal dalam keadaan berdakwah. Orang yang senang melakasanakan sholat meninggal saat sedang bersujud kepadanya. Orang yang dalam kesehariannya meminum minuman keras, mati dalam keadaan over dosis. Seorang perokok meninggal akibat kanker yang dideritanya, yang penyebabnya tiada lain karena kebiasaannya merokok. Dan lain sebagainya.

Tawakal dan Istiqomah itu kuncinya, kita harus membiasakan diri untuk selalu mengerjakan hal hal yang baik serta meninggalkan perbuatan yang buruk. Seharusnya dalam diri kita ada sifat takut apabila akan mengerjakan perbuatan buruk, karena bisa jadi saat itu kematian anda tiba. Ingatlah kematian tiada terjadi kecuali dengan tiba-tiba.

Sebaik baik pengingat adalah kematian. Semoga bermanfaat.

Selasa, 07 Oktober 2014

BILA

Bila kamu bisa memilih jodoh, siapakah yang akan kamu pilih?

apakah dia, seorang yang melimpah hartanya?
apakah dia, seorang yang tinggi pangkat dan jabatannya?
apakah dia, seorang yang cantik jelita?
apakah dia, seorang yang baik akhlaknya?

Seandainya aku bisa memilih jodohku, akan kupilih dia. Dia adalah seorang yang baik akhlaknya, cantik wajahya, indah perkataannya, tiada yang keluar dari mulutnya kecuali perkataan yang baik, yang mengajak pada yang ma'ruf dan mencegah pada yang mungkar. Sedikit muluk memang, toh itu bukanlah hal yang salah. G ada salahnya mengharapkan sesuatu yang baik.

Mungkin kamu akan bertanya "adakah yang seperti itu?". Aku akan menjawab "Ya, Ada". Aku mungkin belum pernah melihatnya dan belum pernah pula mendengarnya, namun bukan berarti hal itu tak ada.

Jika nanti dia benar benar menjadi jodohku, alangkah lengkap nikmat yang telah diberikan yang Maha Kuasa. Dia memang tidak sempurna, tidak seperti para bidadari di surga yang suci, yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun sebelumnya, yang bermata jeli lagi cantik. Namun, bisa jadi bidadari pun cemburu padanya.

Semoga doa doaku ini terkabul. Jadi, siapakah yang akan kamu pilih?